Gerakkan Pendidikan dari Akar Pembelajaran, Interport Pilih Investasi pada Guru untuk Masa Depan Pendidikan Balikpapan

BALIKPAPAN – Kemampuan numerasi masih menjadi salah satu tantangan dalam peningkatan kualitas pendidikan. Bukan sekadar kemampuan menghitung angka, numerasi menjadi bekal bagi siswa untuk berpikir logis, memahami informasi, membaca data, hingga mengambil keputusan dalam kehidupan sehari-hari.

Hal itulah yang mendorong PT Interport Mandiri Utama bersama Indika Foundation menghadirkan program peningkatan kapasitas guru di Kota Balikpapan melalui pelatihan numerasi bagi jenjang sekolah dasar (SD) dan sekolah menengah pertama (SMP) yang diikuti 70 tenaga pendidik yang ada di Kota Balikpapan.

Program bertajuk “Mengenal Numerasi Lebih Dalam” tersebut berlangsung dalam dua tahap. Tahap pertama diikuti guru SMP pada 15–18 Juli 2026, kemudian dilanjutkan dengan pelatihan bagi guru SD pada 20–22 Juli 2026.
Seluruh kegiatan digelar di Hotel Pacific Balikpapan.

Para peserta berasal dari sejumlah sekolah negeri maupun swasta di Kota Balikpapan, khususnya yang berada di sekitar wilayah operasional PT Interport Mandiri Utama.

Kepala Bidang Pembinaan Sekolah Menengah Pertama Dinas Pendidikan Kota Balikpapan, Supriyani, mengatakan peningkatan kompetensi guru menjadi salah satu faktor penting dalam menghadapi perubahan dunia pendidikan yang semakin dinamis.

Menurutnya, perkembangan teknologi dan perubahan karakter peserta didik menuntut guru untuk terus memperbarui kemampuan, termasuk dalam menghadirkan metode pembelajaran yang lebih relevan.

“Dengan perkembangan teknologi dan perkembangan peserta didik, sumber daya manusia khususnya guru harus terus meningkatkan kompetensinya, meng-upgrade ilmu pengetahuan, sehingga tetap bisa mengawal anak-anak di zaman sekarang,” ujar Supriyani.

Ia menilai program pelatihan yang digelar Interport bersama Indika Foundation menjadi salah satu bentuk dukungan terhadap peningkatan kualitas pendidikan, khususnya melalui pengembangan kapasitas tenaga pendidik.

Supriyani menjelaskan, numerasi menjadi salah satu aspek yang masih perlu mendapat perhatian berdasarkan evaluasi Rapor Pendidikan. Selama ini, numerasi masih sering dipahami secara terbatas sebagai kemampuan berhitung atau hanya menjadi tanggung jawab guru matematika.
Padahal, menurutnya, kemampuan numerasi dapat diterapkan dalam berbagai bidang pembelajaran.

“Numerasi bukan hanya tugas guru matematika. Semua mata pelajaran pasti memiliki unsur numerasi,” katanya.

Ia mencontohkan, dalam pelajaran olahraga siswa dapat belajar memahami jarak dan waktu, sementara dalam IPS siswa dapat dilatih membaca data ekonomi, grafik, hingga memahami fenomena sosial melalui angka.

“Anak-anak tidak hanya dituntut bisa menghitung, tetapi bagaimana memahami dan menerapkan konsep angka dalam kehidupan sehari-hari,” ujar Supriyani.

Corporate Social Responsibility PT Interport Mandiri Utama, Ricky Aprilyanto, mengatakan program tersebut disusun berdasarkan hasil pemetaan kebutuhan pendidikan di sekitar wilayah operasional perusahaan.

Sebelum pelatihan digelar, Interport melakukan asesmen serta berdiskusi dengan sekolah dan Dinas Pendidikan Kota Balikpapan untuk memastikan program yang diberikan sesuai dengan kebutuhan di lapangan.

“Kami tidak ingin membuat program berdasarkan asumsi perusahaan. Kami melakukan analisa terlebih dahulu, melihat kebutuhan dari sekolah, kemudian berdiskusi dengan pihak sekolah dan dinas,” ujar Ricky.

Dari proses tersebut, kata Ricky, penguatan literasi dan numerasi menjadi dua aspek yang dinilai perlu dikembangkan. Namun, program tahap awal difokuskan pada numerasi.

“Dari diskusi yang kami lakukan, mereka menyampaikan kebutuhan penguatan literasi dan numerasi. Karena itu kami mulai dari numerasi terlebih dahulu,” katanya.

Ricky mengatakan Interport memilih fokus pada peningkatan kapasitas guru karena guru merupakan pihak yang berhadapan langsung dengan proses pembelajaran di ruang kelas.

“Kalau kita bicara peningkatan pendidikan, yang bisa mengembangkan dan mengubah kualitas pendidikan adalah guru. Guru adalah orang yang berada paling depan saat proses belajar mengajar,” ujarnya.

Menurutnya, keberhasilan program tidak hanya dilihat dari terlaksananya pelatihan, tetapi juga dari penerapan ilmu yang diperoleh para guru dalam kegiatan belajar mengajar.
Karena itu, Interport menyiapkan pendampingan lanjutan setelah pelatihan untuk melihat bagaimana materi yang diberikan dapat diterapkan di sekolah.

“Kami ingin program ini berkelanjutan. Setelah pelatihan akan ada pendampingan untuk melihat bagaimana materi yang diberikan selama tiga hari ini diterapkan oleh guru,” kata Ricky.

Salah satu peserta pelatihan, Dimas, guru SMP Negeri 21 Balikpapan, mengatakan kegiatan tersebut memberikan pemahaman baru bahwa numerasi bukan hanya berkaitan dengan pelajaran matematika.

Menurutnya, dalam pembelajaran IPS, kemampuan membaca dan mengolah data juga menjadi bagian penting dalam membantu siswa memahami berbagai persoalan.

“Banyak yang menganggap numerasi hanya untuk matematika. Padahal di IPS juga sangat membutuhkan numerasi, misalnya ketika membahas skala, ekonomi, inflasi, dan membaca berbagai data,” ujar Dimas.
Ia mengatakan tantangan yang sering ditemui di kelas bukan hanya kemampuan siswa melakukan perhitungan, tetapi memahami konsep di balik angka tersebut.

“Anak-anak biasanya tahu cara menghitung, tetapi belum memahami konsep numerasinya. Ketika konsepnya sudah dipahami, mereka akan lebih mudah menyelesaikan persoalan,” katanya.

Dimas berharap pelatihan tersebut dapat mendorong kesamaan pemahaman di kalangan guru bahwa numerasi merupakan kemampuan yang dapat dikembangkan melalui berbagai mata pelajaran.

“Harapannya guru-guru bisa memiliki pandangan yang sama bahwa numerasi bukan hanya milik satu pelajaran, tetapi bisa diterapkan di semua bidang,” ujarnya.

Melalui penguatan kapasitas guru, Interport bersama Indika Foundation berharap program tersebut dapat memberikan dampak berkelanjutan terhadap kualitas pembelajaran di Balikpapan.

Sebab, peningkatan kemampuan numerasi siswa tidak hanya bergantung pada materi yang diajarkan, tetapi juga bagaimana guru mampu menghadirkan pembelajaran yang kontekstual dan dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *