DLH Balikpapan Ajak Warga “Panen” Air Hujan, Jadi Cadangan Saat Kemarau

BALIKPAPAN -Air hujan yang selama ini kerap dibiarkan mengalir begitu saja mulai didorong untuk dimanfaatkan masyarakat Kota Balikpapan. Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Balikpapan mengajak warga menjadikan air hujan sebagai salah satu sumber air alternatif untuk kebutuhan sehari-hari, terutama saat musim kemarau.

Langkah sederhana ini dinilai dapat mengurangi penggunaan air bersih, sekaligus membantu menjaga ketahanan air di Kota Balikpapan.

Kepala DLH Kota Balikpapan, Sudirman Djayaleksana, mengatakan pemanenan air hujan dapat dilakukan dengan sarana sederhana tanpa membutuhkan teknologi yang rumit.

Sebenarnya permanen aur hujan bisa dilakukan siapa saja. Tidak perlu teknologi yang rumit, masyarakat cukup menyediakan tempat untuk menampung air hujan,” kata Sudirman, Kamis (13/8/2026).

Menurutnya, masyarakat dapat menggunakan berbagai jenis wadah, mulai dari ember, tandon, tangki hingga reservoir. Kapasitas penampungan dapat disesuaikan dengan kebutuhan dan kondisi lingkungan masing-masing.

“Tidak harus langsung menggunakan tempat penampungan yang besar. Yang penting ada wadah yang bisa digunakan untuk menampung dan menyimpan air hujan,” ujarnya.

Sudirman menjelaskan, air hujan yang telah ditampung dapat dimanfaatkan untuk berbagai kebutuhan nonkonsumsi. Di antaranya menyiram tanaman, mencuci, membersihkan halaman hingga kebutuhan rumah tangga lainnya.

Dengan cara tersebut, penggunaan air bersih dapat ditekan untuk kegiatan yang sebenarnya tidak membutuhkan air dengan kualitas konsumsi.

“Air hujan bisa kita manfaatkan untuk kebutuhan yang tidak dikonsumsi. Dengan begitu, penggunaan air bersih untuk kegiatan tertentu bisa dikurangi,” jelasnya.

Ia mengingatkan masyarakat untuk memperhatikan kebersihan wadah penampungan. Bagi warga yang membutuhkan kualitas air lebih baik, penyaringan dapat dilakukan sebelum air digunakan.

“Kalau ingin kualitas airnya lebih baik, tentu bisa dilakukan penyaringan. Tempat penampungannya juga harus bersih dan tertutup dengan baik,” katanya.

Selain aspek konservasi air, pemanfaatan air hujan juga dinilai dapat membantu mengurangi pengeluaran rumah tangga untuk kebutuhan air tertentu.

“Dalam kondisi ekonomi seperti sekarang, air hujan tidak perlu dibeli. Masyarakat hanya perlu menyediakan tempat penampungan. Ini bisa membantu mengurangi pengeluaran untuk kebutuhan air tertentu,” tutur Sudirman.

DLH Balikpapan mendorong konsep pemanenan air hujan diterapkan lebih luas. Sekolah, perkantoran, kawasan industri hingga fasilitas umum dinilai memiliki peluang untuk memanfaatkan air hujan yang ditampung dari area bangunan masing-masing.

Sejumlah lokasi di Balikpapan bahkan telah menjadi proyek percontohan pemanfaatan air hujan, di antaranya Kelurahan Sungai Nangka, Kampung Bungas, Graha Indah serta SMP Negeri 22 Balikpapan.

“Beberapa lokasi sudah menjadi proyek percontohan. Harapannya, ini bisa menjadi contoh bagi masyarakat maupun fasilitas lainnya untuk mulai memanfaatkan air hujan,” ungkapnya.

Sudirman menilai edukasi menjadi kunci agar gerakan pemanenan air hujan tidak berhenti sebatas menyediakan tempat penampungan. Masyarakat perlu memahami cara menjaga kualitas air dan mengelolanya sesuai peruntukan.

DLH pun membuka ruang bagi masyarakat maupun kelompok yang membutuhkan sosialisasi terkait pemanenan air hujan.

“Kami siap memberikan sosialisasi kepada masyarakat. Jangan hanya menampung, tetapi harus tahu bagaimana menjaga kebersihan tempat penampungan dan memanfaatkan airnya dengan benar,” katanya.

Menurut Sudirman, semakin banyak masyarakat yang memanen air hujan, semakin besar pula manfaat yang dapat diperoleh bagi ketahanan air kota.

“Kalau dilakukan bersama-sama, manfaatnya tentu akan lebih besar. Kita ingin masyarakat mulai terbiasa menghemat air dan memanfaatkan sumber daya yang tersedia di sekitar kita,” pungkasnya.(*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *