BALIKPAPAN— Mengantisipasi potensi dampak El Nino yang dapat memicu kondisi lebih kering dan meningkatkan risiko kekurangan air, Pemerintah Kota (Pemkot) Balikpapan mendorong masyarakat mulai memanfaatkan air hujan sebagai salah satu sumber air alternatif.
Upaya tersebut sejalan dengan Peraturan Wali Kota (Perwali) Balikpapan Nomor 23 Tahun 2023 tentang Pengelolaan Air Hujan. Regulasi ini menjadi salah satu landasan dalam mendorong pemanfaatan air hujan, sekaligus meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat menghadapi kondisi cuaca ekstrem.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Balikpapan, Sudirman Djayaleksana, mengatakan pemanfaatan air hujan dapat menjadi langkah sederhana yang dilakukan masyarakat untuk membantu menjaga ketersediaan air ketika curah hujan menurun.
Menurutnya, air hujan yang selama ini langsung dialirkan ke drainase maupun terbuang begitu saja dapat ditampung dan dimanfaatkan kembali sesuai kebutuhan.
“Melalui Perwali Nomor 23 Tahun 2023, masyarakat dan pelaku usaha didorong untuk mulai menampung dan memanfaatkan air hujan sebagai salah satu sumber alternatif. Ini menjadi langkah sederhana, tetapi manfaatnya besar untuk menghadapi risiko kekeringan,” ujar Sudirman, Senin (1/7/2026).
Ia menjelaskan, penerapan pemanfaatan air hujan bukan sekadar konsep. Sejumlah kawasan di Balikpapan telah mulai menerapkannya, salah satunya di Kampung Bungus yang telah memiliki instalasi permanen untuk menampung air hujan dan dimanfaatkan langsung oleh masyarakat.
Menurut Sudirman, praktik tersebut dapat menjadi contoh bahwa pemanfaatan air hujan bisa diterapkan di tingkat lingkungan permukiman maupun kawasan usaha, dengan menyesuaikan kebutuhan dan kondisi masing-masing.
Sudirman menegaskan, menghadapi El Nino tidak cukup hanya dengan menghemat penggunaan air. Masyarakat juga perlu melakukan berbagai langkah mitigasi untuk mengurangi risiko lain yang dapat muncul ketika kondisi cuaca lebih panas dan kering.
Salah satunya dengan menyesuaikan pola tanam dengan kondisi cuaca. Petani maupun masyarakat yang melakukan kegiatan budidaya tanaman perlu mempertimbangkan ketersediaan air, sehingga penggunaan air dapat dilakukan secara lebih efisien.
“Pola tanam juga perlu disesuaikan dengan kondisi cuaca. Penggunaan air harus efisien, terutama ketika kondisi lebih kering,” katanya.
Selain persoalan ketersediaan air, kondisi panas dan kering juga dapat meningkatkan risiko kebakaran lahan. Karena itu, Sudirman mengingatkan masyarakat untuk tidak melakukan pembakaran sampah secara terbuka.
Kebiasaan membakar sampah di tengah kondisi lingkungan yang kering dinilai dapat meningkatkan potensi api merambat dan memicu kebakaran yang lebih luas.
“Jangan membakar sampah secara terbuka. Kita perlu mencegah kebakaran lahan sejak dini, terutama ketika kondisi cuaca panas dan kering,” tegasnya.
Masyarakat juga diimbau menjaga kondisi tubuh selama periode panas dengan mencukupi kebutuhan cairan, mengurangi paparan panas berlebihan, serta menggunakan perlindungan dari sinar matahari saat beraktivitas di luar ruangan.
Menurut Sudirman, berbagai langkah tersebut saling berkaitan. Menghemat air berarti membantu menjaga cadangan air, tidak membakar sampah berarti mengurangi risiko kebakaran, sementara menjaga lingkungan akan memperkuat ketahanan masyarakat menghadapi kondisi cuaca ekstrem.
Sudirman menilai kesiapsiagaan menghadapi El Nino sebaiknya tidak dilakukan ketika dampaknya sudah dirasakan. Kebiasaan hemat air dan pemanfaatan sumber air alternatif perlu dibangun sejak sekarang.
“Siaga menghadapi fenomena El Nino dengan hemat air, menjaga alam dan menyelamatkan masa depan. Semua bisa dimulai dari kebiasaan sederhana di rumah dan lingkungan masing-masing,” ujarnya.
Ia berharap penerapan Perwali Nomor 23 Tahun 2023 dapat semakin diperkuat melalui partisipasi masyarakat dan pelaku usaha.
Dengan semakin banyak air hujan yang ditampung dan dimanfaatkan, tekanan terhadap sumber air dapat ditekan, terutama ketika memasuki periode kering.
Upaya tersebut sekaligus menjadi bagian dari strategi menjaga ketahanan lingkungan Balikpapan, di tengah tantangan perubahan iklim dan cuaca ekstrem yang semakin membutuhkan kesiapsiagaan bersama.
Dengan demikian, menghadapi El Nino bukan hanya persoalan menunggu hujan kembali turun.
Masyarakat dituntut mulai mengubah cara memperlakukan air dari yang sebelumnya terbuang menjadi cadangan yang bernilai, sekaligus memperkuat kebiasaan menjaga lingkungan dari rumah.(*)






