Kopi Luwak Khas Desa Prangat Baru Siap Diedarkan ke Luar Wilayah

TENGGARONG, kaltimonline.com – Desa Prangat Baru, Kecamatan Marangkayu, Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) mulai galakkan pemasaran mereka di sektor perkebunan kopi. Mengingat saat ini kopi sudah menjadi kebutuhan sehari-hari di kalangan masyarakat Indonesia, warga sekitar kini menilik kopi luwak sebagai potensi desa.

Di awal abad ke-21 ini perkebunan kopi sangatlah meyakinkan untuk terus dikembangkan. Di Indonesia sendiri kini banyak wilayah yang telah mempunyai ciri khas dalam memproduksi kopi. Fitriati, selaku Kepala Desa (Kades) Perangat Baru membeberkan potensi kopi luwak sangat besar. Bahkan kopi luwak mulai dilirik sebagai alternatif karet sebagai komoditas unggulan.

“Kalau musim hujan produksi karet menurun. Tapi dengan kopi ini produksi kami meningkat. Dan saat ini pekebun kopi telah tergabung di kelompok tani dan memiliki pasar tersendiri,” tegas Fitriati.

Pemerintah Desa Prangat Baru kini mulai memperluas lahan kopi bersama kelompok tani. Di kebun kopi luwak seluas 25 hektare dari 60 hektare dikembangkan dan 25 hektare. Yang diantaranya, dua hektare maksimal produksinya. Fitriati kerap menambahkan produksi kopi di Prangat Baru dikembangkan di beberapa tahun belakangan ini. Meskipun begitu, hasil olahan kopi luwak Perangat Baru telah tersalurkan ke perhotelan, kementerian, hingga dilirik Australia.

Kopi yang tumbuh di Desa Perangat Baru sendiri merupakan jenis liberika yang berasal dari Liberia, Afrika Barat. Kopi jenis ini ternyata hanya ada tiga titik di wilayah Indonesia, antara lain Jember, Jambi, serta Kaltim di Desa Prangat Baru. Fitriati turut membeberkan kini kopi luwak khas Prangat Baru memiliki pasar yang tersegmentasi.

“Jadi saat ini pemasaran kopi kami masih sesuai permintaan konsumen. Baik itu yang siap seduh atau dalam bentuk biji yang sudah di roasting,” imbuhnya.

Tak sampai disitu, Desa Prangat Baru terus menarik perhatian dari banyak pihak, antaranya pemerintah dan pihak swasta. Pemkab Kukar juga ikut andil dalam menaruh minat dengan memberi 10 ekor luwak, rumah produksi, lantai jemur, embung, hingga jalan perkebunan. Kopi luwak Desa Perangat Baru kini telah merilis berbagai varian seperti red honey, natural, dan full wash dengan harga yang dibandrol dari Rp 750.000 hingga Rp 5 Juta per kilogramnya.

Fitriati mengungkapkan kedepannya pihak mereka akan bekerja sama dengan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) guna meningkatkan potensi kopi lebih jauh. Selain itu, Desa Perangat Baru nantinya akan dirancang sebagai desa wisata dengan nama Desa Wisata Kampung Luwak dan khas Perangat Baru.

“Harapan saya ke depan warga Perangat Baru sejahtera dan umumnya masyarakat di Kabupaten Kukar dengan potensi ekonomi dari kopi luwak ini. Kemudian harapan kami karena disini 90 % mayoritas petani karet, dengan adanya kopi ini bisa membantu mendongkrak perekonomian petani,” harapnya. (adv)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *