BALIKPAPAN—Upaya Kota Balikpapan membangun lingkungan perkotaan yang lebih hijau dan berkelanjutan mendapat ruang untuk dibagikan dalam Forum Lingkungan Hidup APEKSI 2026 di Medan, pada hari Selasa, 30 Juni 2026.
Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Balikpapan memanfaatkan forum tersebut untuk berbagi pengalaman dan strategi pengelolaan lingkungan yang telah diterapkan di Kota Minyak, mulai dari inovasi penanaman mangrove hingga pengembangan ruang terbuka hijau dan taman kota.
Kepala DLH Kota Balikpapan, Sudirman Djayaleksana, hadir sebagai salah satu narasumber dalam forum tersebut. Ia didampingi Kepala Bidang Tata Lingkungan dan Perlindungan Sumber Daya Alam, Arisal Rahmandi.
Dalam kesempatan itu, Sudirman memaparkan sejumlah langkah konkret yang dilakukan Balikpapan dalam menjaga kelestarian lingkungan sekaligus meningkatkan kualitas ruang kota.
Salah satu inovasi yang menjadi bagian dari paparan adalah penanaman mangrove menggunakan metode planter bag. Inovasi tersebut menjadi salah satu pendekatan yang dikembangkan untuk mendukung upaya rehabilitasi dan konservasi kawasan pesisir.
Selain konservasi mangrove, DLH Balikpapan turut memaparkan perkembangan luasan taman kota sebagai bagian dari upaya memperkuat ruang hijau di kawasan perkotaan.
Menurut Sudirman, pembangunan kota berkelanjutan tidak cukup hanya mengandalkan pembangunan fisik. Perubahan perilaku masyarakat, edukasi, konservasi, serta kolaborasi berbagai pihak juga menjadi bagian penting dalam menjaga kualitas lingkungan.
“Persoalan lingkungan tidak bisa diselesaikan sendiri. Dibutuhkan kolaborasi antarwilayah, antardaerah, bahkan lintas generasi,” ujar Sudirman, Jumat (10/7/2026).
Ia mengatakan, forum seperti APEKSI 2026 menjadi ruang penting bagi pemerintah daerah untuk saling bertukar pengalaman dan mencari pendekatan baru dalam menghadapi tantangan lingkungan.
Bagi Balikpapan, keikutsertaan dalam forum tersebut bukan sekadar untuk menunjukkan capaian daerah. Lebih dari itu, pengalaman yang telah dilakukan di lapangan diharapkan dapat menjadi pembelajaran bagi daerah lain.
“Kita bukan hanya berbicara tentang apa yang sudah dicapai, tetapi juga bagaimana pengalaman itu bisa dibagikan dan dikembangkan bersama. Kalau ada strategi Balikpapan yang bisa menginspirasi kota lain untuk menjadi lebih hijau, tentu itu menjadi hal yang positif,” katanya.
Sudirman menilai, tantangan lingkungan ke depan semakin kompleks. Pertumbuhan kota, perubahan iklim, kebutuhan ruang terbuka hijau, pengelolaan sampah, hingga perlindungan ekosistem pesisir membutuhkan pendekatan yang terintegrasi.
Karena itu, pemerintah daerah perlu terus melakukan inovasi sekaligus memperkuat keterlibatan masyarakat.
Ia menambahkan, berbagai capaian lingkungan yang dibawa ke forum nasional merupakan hasil kerja bersama, bukan hanya DLH. Edukasi kepada masyarakat, keterlibatan komunitas, dukungan perangkat daerah, serta berbagai program konservasi menjadi bagian dari proses panjang membangun budaya peduli lingkungan.
“Kerja keras tim di lapangan, mulai dari edukasi masyarakat sampai program konservasi, tentu menjadi penyemangat bagi kami untuk terus melakukan inovasi,” tutur Sudirman.
Melalui forum tersebut, DLH Balikpapan berharap pertukaran pengalaman antardaerah dapat melahirkan lebih banyak gagasan dan praktik baik dalam pengelolaan lingkungan.
Langkah itu sekaligus memperkuat komitmen Balikpapan untuk terus mengembangkan kota yang hijau, sehat dan berkelanjutan, dengan menempatkan lingkungan sebagai bagian penting dari pembangunan perkotaan.(*)





