Pemkot Balikpapan Fokus Pulihkan Anak Bermasalah Hukum, Keluarga Jadi Garda Terdepan

BALIKPAPAN-Pemerintah Kota Balikpapan menaruh perhatian serius terhadap anak-anak yang berhadapan dengan hukum. Hingga pertengahan tahun 2025, tercatat sekitar 200 anak terlibat dalam berbagai kasus hukum, mulai dari penyalahgunaan zat adiktif hingga kasus asusila.

Meski angka ini menunjukkan penurunan dibandingkan tahun sebelumnya, permasalahan tersebut tetap dianggap darurat sosial yang harus ditangani secara komprehensif.

Kepala Dinas Sosial Balikpapan, Edy Gunawan, menegaskan bahwa persoalan ini bukan hanya tanggung jawab pemerintah, tetapi juga masyarakat, terutama keluarga. “Pola asuh dan lingkungan sangat memengaruhi perilaku anak. Maka dari itu, keluarga harus menjadi benteng pertama dalam melindungi dan membimbing anak,” ujarnya, Jumat (11/7/2025).

Menurut Edy, sebagian besar kasus yang terungkap berkaitan dengan asusila, bahkan terjadi di lingkungan terdekat korban, seperti keluarga dan tetangga. Kawasan Balikpapan Barat menjadi salah satu wilayah dengan jumlah kasus cukup tinggi, termasuk penyalahgunaan lem dan minimnya akses pendidikan.

Dinsos Balikpapan tidak hanya berhenti pada pendataan dan pencegahan, tetapi juga menjalankan pendekatan pemulihan menyeluruh. Anak-anak yang terlibat kasus mendapatkan pendampingan psikologis, serta asesmen individual untuk menentukan langkah lanjutan terbaik.

“Tidak semua anak bisa langsung kembali ke sekolah umum. Ada yang kami arahkan ke pelatihan keterampilan atau pendidikan khusus, tergantung hasil asesmen. Yang penting mereka tetap punya masa depan,” jelas Edy.

Sebagai bentuk dukungan terhadap keberlanjutan pendidikan anak-anak ini, beberapa di antaranya telah dikirim ke sekolah khusus di Samarinda. Tujuannya agar mereka bisa mendapatkan lingkungan belajar yang lebih sesuai dan mendukung proses pemulihan.

Upaya pencegahan juga terus dilakukan secara masif. Dinsos aktif menyambangi kelurahan untuk melakukan sosialisasi pendidikan karakter, penguatan nilai keimanan, dan proteksi anak dari lingkungan buruk. Dalam berbagai pertemuan warga, masyarakat diajak menjadi bagian dari solusi dalam menjaga generasi muda.

“Kami ingin masyarakat sadar, anak-anak bukan hanya tanggung jawab rumah tangga sendiri, tapi juga lingkungan sekitar. Anak-anak ini aset bangsa. Kalau tidak kita jaga, mereka akan tumbuh dalam risiko,” kata Edy.

Ia pun menambahkan bahwa meski anak pernah melakukan kesalahan, bukan berarti mereka kehilangan masa depan. “Mungkin mereka tidak berjalan di jalur yang umum, tapi tetap ada jalan lain untuk kembali bangkit,” tegasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *