BALIKPAPAN — Persoalan sampah di wilayah pesisir Kota Balikpapan masih menjadi tantangan besar yang membutuhkan kerja sama antara pemerintah dan masyarakat. Setiap datangnya musim angin selatan, sekitar Juli hingga September, ombak laut membawa ribuan kilogram sampah yang menumpuk di sepanjang garis pantai kota. Kondisi ini tidak hanya merusak pemandangan, tetapi juga mencemari laut serta mengancam ekosistem pesisir.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Balikpapan, Sudirman Djayaleksana, menjelaskan bahwa volume sampah yang terdampar pada periode tersebut bisa mencapai enam hingga sembilan ton per hari. Sebagian besar berasal dari limbah rumah tangga, plastik sekali pakai, hingga potongan kayu yang terbawa arus dari daratan.
“Kondisi ini tak hanya merusak ekosistem mangrove dan ikan, tapi juga mengancam habitat penyu yang hidup di kawasan pesisir,” ungkap Sudirman kepada awak media, Selasa (11/11/2025).
Untuk menekan timbulan sampah, Pemkot Balikpapan kini memperkuat sistem pengelolaan dari sumber utama atau hulu, yakni rumah tangga. Salah satu langkah strategis yang dijalankan adalah menghidupkan kembali program bank sampah yang sempat terhenti akibat pandemi Covid-19.
Sudirman menjelaskan, sebelumnya terdapat sekitar 130 unit bank sampah aktif, namun kini jumlahnya menurun menjadi sekitar 70 unit. Pemerintah menargetkan setiap kelurahan memiliki minimal enam bank sampah agar masyarakat memiliki fasilitas daur ulang dan pemilahan yang memadai.
“Kalau target itu tercapai, jumlah bank sampah bisa mencapai lebih dari 200 unit. Harapannya, pengurangan sampah dari rumah tangga bisa lebih optimal,” ujarnya.
Selain program bank sampah, Pemkot juga memperluas pembangunan Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) di sejumlah titik strategis. Fasilitas ini berfungsi sebagai penyaring awal sebelum sampah dikirim ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Manggar, sehingga hanya residu yang benar-benar tidak bisa diolah yang masuk ke sana.
Saat ini, TPA Manggar menampung sekitar 400 ton sampah per hari. Dengan optimalisasi TPST dan bank sampah, angka tersebut diyakini bisa ditekan secara signifikan.
“Kami ingin membangun kesadaran bersama bahwa sampah bukan hanya urusan pemerintah, tapi tanggung jawab seluruh warga. Lingkungan bersih adalah warisan untuk generasi berikutnya,” tegas Sudirman.






