Keterbatasan Infrastruktur Jadi Tantangan BPBD Balikpapan Perkuat Armada Pemadam Kebakaran

BALIKPAPAN — Upaya meningkatkan kesiapsiagaan penanggulangan kebakaran di Kota Balikpapan masih menghadapi hambatan besar, terutama terkait keterbatasan infrastruktur dasar seperti daya dukung jalan untuk kendaraan pemadam berukuran besar. Kondisi ini menjadi tantangan serius bagi Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Balikpapan dalam memperkuat armada dan fasilitas pemadam kebakaran di wilayah kota yang terus berkembang pesat.

Kepala BPBD Balikpapan, Usman Ali, mengungkapkan bahwa saat ini pihaknya memiliki dua unit mobil skylift untuk penanganan kebakaran di gedung bertingkat dan pertolongan di ketinggian. Namun, satu unit dalam kondisi rusak dan belum dapat digunakan, sementara satu unit yang bekerja aktif hanya memiliki jangkauan tangga setinggi 32 meter, jauh di bawah kebutuhan ideal untuk kawasan perkotaan modern.

“Kita tidak bisa menambah skylift dengan tangga lebih tinggi karena beban jalan di Balikpapan belum mampu menahan kendaraan seberat itu. Kalau seperti di Surabaya, mereka punya skylift 100 meter lebih karena infrastruktur jalannya mendukung,” ujar Usman, di Balai Kota Balikpapan, Senin (10/11/2025).

Menurutnya, meskipun jumlah mobil pemadam kebakaran saat ini dianggap masih mencukupi, tantangan terbesar justru terletak pada pemeliharaan dan peremajaan armada agar selalu siap pakai saat dibutuhkan. Kondisi geografis Balikpapan yang berbukit, ditambah padatnya kawasan permukiman dan meningkatnya pembangunan gedung bertingkat, semakin mempertegas urgensi peningkatan fasilitas modern.

“Untuk Damkar sendiri, mobil pemadam saat ini cukup, tetapi pemeliharaan dan peremajaannya perlu terus kami tingkatkan agar siap digunakan kapan saja,” tegasnya.

Selain itu, Usman menyebut bahwa penyebaran penduduk yang kini meluas ke wilayah timur dan utara membuat kebutuhan pos pemadam baru tidak bisa ditunda. Dalam dua hingga tiga tahun ke depan, BPBD menargetkan pembangunan pos baru di kawasan tersebut untuk mempercepat waktu respons terhadap kejadian kebakaran.

“Kita sudah memetakan rencana penambahan pos. Ini penting karena mobilitas warga kini mulai bergeser ke pinggiran kota. Kalau pos Damkar terlalu jauh, waktu tanggap kebakaran bisa lebih lama,” jelasnya.

Usman menegaskan pentingnya kolaborasi pemerintah dengan berbagai pihak, termasuk TNI, Polri, relawan, dan perangkat daerah, khususnya dalam penataan tata ruang dan pembangunan infrastruktur jalan yang layak menampung kendaraan damkar berkapasitas besar.

“Kami berharap ke depan infrastruktur kota juga ikut disesuaikan agar mendukung kendaraan besar seperti skylift. Ini bagian dari kesiapsiagaan jangka panjang menghadapi kondisi darurat di kota yang terus berkembang,” pungkasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *