BALIKPAPAN-Pengelolaan sampah di Balikpapan terus mengalami pembenahan signifikan guna mewujudkan kota yang lebih bersih, tertata, dan berkelanjutan. Pemerintah Kota Balikpapan melalui Dinas Lingkungan Hidup (DLH) menekankan strategi utama berupa pengurangan Tempat Pembuangan Sementara (TPS) serta percepatan pembangunan Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) di setiap kecamatan. Langkah ini diambil sebagai upaya mengatasi permasalahan sampah dari hulu hingga hilir.
Kabid Kebersihan DLH Balikpapan, Dodi Yulianto, menjelaskan bahwa jumlah TPS di Balikpapan terus berkurang dalam tiga tahun terakhir. “Pada 2022, terdapat 462 TPS yang tersebar di seluruh kota. Saat ini jumlahnya menurun menjadi 401 unit, dengan 61 TPS dibongkar karena berada di koridor jalan utama dan dianggap mengganggu estetika kota,” jelas Dodi, Selasa (25/11/2025).
Dodi menegaskan, pengurangan TPS bukan sekadar mempercantik kota, tetapi juga bertujuan menumbuhkan kedisiplinan masyarakat dalam memilah dan mengurangi sampah dari sumbernya. “Dengan pengurangan TPS di lokasi strategis, warga diharapkan lebih aktif memanfaatkan fasilitas pemilahan dan ikut berperan dalam pengelolaan sampah,” katanya.
Ia menambahkan, DLH tidak memiliki rencana menambah TPS baru. Fokus pemerintah kota kini diarahkan pada pembangunan TPST yang lebih modern dan terintegrasi. TPST diharapkan berfungsi sebagai pusat pengolahan sampah tingkat menengah sebelum dibawa ke Tempat Pemrosesan Akhir (TPA), sekaligus mendukung program daur ulang dan pemanfaatan sampah berbasis lingkungan.
“Sejak tahun 2025, tiga TPST telah selesai dibangun, dan dua TPST tambahan akan hadir di Kecamatan Balikpapan Kota dan Balikpapan Timur. TPST ini mampu memisahkan sampah organik, anorganik, dan residu sehingga beban TPA berkurang,” tambahnya.
Selain itu, TPST juga disiapkan sebagai pusat edukasi bagi masyarakat mengenai pemilahan dan pengolahan sampah, termasuk pemanfaatannya menjadi produk daur ulang bernilai ekonomis. “TPST bukan sekadar tempat penampungan, tapi juga sarana pemberdayaan masyarakat dan pengelolaan sampah yang ramah lingkungan,” ujar Dodi.
DLH turut mendorong kolaborasi lintas sektor, termasuk keterlibatan pihak swasta melalui program CSR untuk mendukung pengembangan TPST, penghijauan area sekitar fasilitas, serta penguatan edukasi masyarakat tentang kebersihan lingkungan.
Dodi menegaskan, keberhasilan sistem pengelolaan sampah Balikpapan sangat bergantung pada partisipasi masyarakat. “TPST dan pengurangan TPS hanyalah salah satu bagian dari sistem. Kunci keberhasilan tetap ada pada warga—bagaimana mereka membuang sampah pada tempatnya, memilah sejak rumah, dan mendukung program pemerintah,” tutupnya.






