BALIKPAPAN-Pemerintah Kota Balikpapan melalui Dinas Lingkungan Hidup (DLH) terus memperluas jaringan bank sampah sebagai strategi utama untuk menekan jumlah sampah dari sumbernya. Upaya ini sekaligus menjadi bagian penting dalam memperkuat gerakan pengelolaan sampah berbasis masyarakat.
Kabid Pengelolaan Sampah DLH Balikpapan, Dodi, menyampaikan pada Selasa (25/11/2025) bahwa perkembangan bank sampah di kota ini menunjukkan tren positif dan menjadi indikator meningkatnya partisipasi warga dalam mengelola sampah secara mandiri.
Menurutnya, pada 2024 Balikpapan memiliki 77 bank sampah aktif. Dalam satu tahun terakhir, angka tersebut melonjak menjadi 116 unit, bertambah 39 unit yang kini tersebar di seluruh kecamatan. Pertumbuhan ini sejalan dengan arahan dalam Edaran Wali Kota Balikpapan yang menekankan pentingnya pengurangan sampah dari tingkat rumah tangga.
“Bank sampah yang terus bertambah bukan sekadar tempat menabung sampah bernilai, tetapi juga pusat edukasi masyarakat. Warga belajar memilah sampah organik, anorganik, dan residu sehingga proses daur ulang dapat berjalan optimal,” ujar Dodi.
Dalam edaran tersebut, setiap kelurahan ditargetkan memiliki minimal enam Bank Sampah Unit, sementara setiap kecamatan wajib memiliki satu Bank Sampah Induk. Jika seluruh target terpenuhi, total bank sampah di Balikpapan dapat mencapai 2.010 unit. Meski dianggap ambisius, Dodi menilai target tersebut realistis melihat tingginya volume sampah kota dan perlunya menekan beban Tempat Pemrosesan Akhir (TPA).
Ia menambahkan keberadaan bank sampah mampu mengurangi ketergantungan masyarakat terhadap Tempat Pembuangan Sementara (TPS) sekaligus meningkatkan partisipasi warga dalam menjaga kebersihan lingkungan. Selain itu, bank sampah berperan sebagai sarana pembelajaran mengenai nilai ekonomi sampah.
“Dengan jumlah bank sampah yang semakin banyak, Balikpapan berpotensi menjadi kota dengan partisipasi masyarakat tertinggi dalam pengelolaan sampah mandiri di Indonesia,” kata Dodi.
DLH memastikan pendampingan, pelatihan, dan pembinaan terus diberikan agar bank sampah dapat beroperasi secara profesional dan berkelanjutan, sekaligus membentuk budaya memilah sampah di tingkat rumah tangga.






