Balikpapan dan Tantangan Adipura, Disiplin Warga Jadi Penentu

BALIKPAPAN-Penghargaan Adipura bukan sekadar simbol prestasi, melainkan cerminan budaya bersih yang harus hidup setiap hari. Anggota Komisi III Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Balikpapan, Syarifuddin Oddang, menegaskan bahwa mempertahankan penghargaan jauh lebih sulit daripada meraihnya.

Menurutnya, keberhasilan mendapatkan Adipura sangat bergantung pada kesadaran kolektif seluruh elemen masyarakat, bukan hanya kerja pemerintah semata. “Memang untuk mendapatkan itu tidak begitu sulit, tapi yang sulit adalah bagaimana kita mempertahankan. Jangan terlena dengan penghargaan,” ujarnya, Rabu (18/2/2026).

Oddang mengakui, Balikpapan selama ini dikenal sebagai kota bersih dan telah berkali-kali meraih Adipura. Namun, pertumbuhan penduduk yang pesat serta menurunnya disiplin sebagian warga menjadi tantangan tersendiri dalam menjaga standar kebersihan.

Ia juga menyinggung adanya beberapa titik yang dinilai masih kotor saat proses evaluasi oleh Kementerian Lingkungan Hidup. Meski tidak serta-merta menggugurkan prestasi, kondisi tersebut menjadi catatan penting untuk pembenahan. “Semakin sering kita dapat penghargaan, maka evaluasinya akan semakin ketat. Artinya, standar kita juga harus terus meningkat,” katanya.

Oddang menyoroti kebiasaan sebagian pihak yang baru berbenah ketika mendekati masa penilaian. Menurutnya, kebersihan harus menjadi kebutuhan dan kebiasaan sehari-hari, bukan sekadar persiapan seremoni. “Kebersihan harus kita jaga setiap hari. Kenapa kita selalu berbondong-bondong bersiap saat mau penilaian? Padahal kebersihan itu bagian dari hidup kita,” tegasnya.

Ia mencontohkan hal sederhana seperti menjaga kebersihan di depan rumah masing-masing. Jika setiap warga disiplin membersihkan lingkungannya sendiri, maka secara otomatis kawasan perumahan hingga tingkat kelurahan akan tetap terjaga tanpa perlu kerja bakti besar-besaran yang bersifat insidental.

Menurut Oddang, peran ketua RT sangat strategis karena bersentuhan langsung dengan warga setiap hari. Edukasi dan komunikasi yang konsisten dinilai menjadi kunci untuk menumbuhkan kesadaran kolektif, terutama di tengah banyaknya pendatang yang harus menyesuaikan diri dengan budaya tertib dan bersih di Balikpapan. “Tingkat evaluasi itu ada di kelurahan. Maka program kebersihan harus menjadi bagian dari kehidupan bermasyarakat,” ujarnya.

Ia menegaskan, DPRD tidak dalam posisi menyalahkan pihak tertentu, melainkan mendorong agar budaya bersih benar-benar melekat dalam kehidupan warga. Dengan komitmen bersama antara pemerintah, OPD teknis, dan masyarakat, Balikpapan diyakini mampu mempertahankan bahkan meningkatkan standar kebersihannya.

“Selama ini sudah terjaga, tapi harus kita tingkatkan lagi. Kalau kebersihan jadi bagian dari diri kita, maka kapan pun dinilai, hasilnya akan baik,” pungkasnya.(*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *