BPBD Balikpapan Ajak Warga Bangun Budaya Siaga Bencana

BALIKPAPAN — Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Balikpapan menegaskan bahwa kesiapsiagaan harus menjadi budaya yang melekat dalam kehidupan sehari-hari masyarakat. Meningkatnya beragam insiden seperti kebakaran, orang tenggelam, hingga kecelakaan rumah tangga menunjukkan bahwa ancaman bencana tidak selalu berasal dari faktor alam semata, tetapi juga dari kurangnya kewaspadaan dan perilaku berisiko.

Kepala BPBD Balikpapan, Usman Ali, mengatakan bahwa unsur bahaya selalu ada di sekitar kehidupan masyarakat. Namun, risiko tersebut dapat dikurangi apabila warga memiliki kesadaran untuk memperhatikan potensi bahaya serta menerapkan langkah-langkah pencegahan sederhana. “Unsur bahaya itu selalu ada, tapi kita berusaha mencegah dengan memperhatikan hal-hal yang bisa membahayakan,” ujarnya pada Sabtu (22/11/2025).

Menurut Usman, tugas BPBD tidak hanya sebatas merespons ketika bencana terjadi, tetapi juga memastikan masyarakat memahami cara mengurangi risiko langsung di lingkungan masing-masing. Banyak kejadian, kata dia, dapat dihindari apabila warga lebih peduli terhadap kondisi sekitar dan membiasakan perilaku aman dalam aktivitas harian.

Ia menjelaskan bahwa personel BPBD bekerja setiap hari memantau potensi bencana di berbagai wilayah, namun keberhasilan penanggulangan bergantung pada keterlibatan masyarakat. “Kesiapsiagaan itu pekerjaan sehari-hari bagi kami. Namun masyarakat pun harus berhati-hati dalam aktivitas harian,” katanya.

Usman mencontohkan sejumlah insiden kebakaran yang dipicu kelalaian ringan, seperti lupa mematikan kompor, korsleting listrik akibat kabel yang rusak, atau menumpuk barang mudah terbakar di area tertutup. Hal serupa berlaku pada kasus orang tenggelam, yang umumnya terjadi karena pengunjung pantai atau sungai mengabaikan batas aman serta peringatan yang telah dipasang.

Untuk menekan risiko kejadian serupa, BPBD memperluas program edukasi kebencanaan ke sekolah, permukiman padat, komunitas lokal, hingga kelompok masyarakat. Edukasi dilakukan melalui sosialisasi, simulasi evakuasi, pelatihan mengenali titik aman, hingga cara memadamkan api pada tahap awal.

Usman menegaskan bahwa edukasi ini sangat penting karena sebagian besar musibah terjadi tiba-tiba tanpa memberi kesempatan kepada warga untuk berpikir panjang. “Kalau masyarakat paham apa yang harus dilakukan, mereka bisa menyelamatkan diri dan orang lain sebelum bantuan tiba,” jelasnya.

Selain itu, BPBD meminta warga meningkatkan kepekaan terhadap tanda-tanda awal bahaya, seperti percikan pada kabel listrik, bau gas yang menyengat, hingga perubahan arus air di sungai atau pantai. Respons cepat dari masyarakat, menurut Usman, dapat mencegah insiden kecil berkembang menjadi bencana yang lebih besar.

Dalam upaya penanggulangan bencana, ia juga menyoroti pentingnya kolaborasi antara pemerintah, komunitas, dan keluarga. Tanpa keterlibatan semua pihak, upaya menciptakan lingkungan aman tidak akan berjalan maksimal. “Kami terus mengingatkan bahwa keselamatan itu berawal dari rumah. Kalau semua pihak bergerak, risiko bencana bisa ditekan,” ujarnya.

Usman berharap kesadaran masyarakat semakin meningkat seiring perubahan cuaca, pertumbuhan kota, dan mobilitas penduduk yang semakin tinggi. Dengan membangun budaya siaga bencana, Balikpapan diharapkan mampu menjadi kota yang lebih tangguh menghadapi berbagai potensi ancaman.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *