BALIKPAPAN — Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Balikpapan terus berupaya mendorong kesadaran masyarakat untuk berperan aktif dalam pengelolaan sampah rumah tangga. Kepala DLH Balikpapan, Sudirman Djayaleksana, menyebutkan bahwa kesadaran warga dalam mengelola sampah masih tergolong rendah, padahal pengelolaan dari sumber merupakan langkah penting untuk menekan volume sampah yang masuk ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA).
Menurutnya, meningkatnya timbulan sampah di Balikpapan tidak hanya dipengaruhi oleh pertumbuhan penduduk, tetapi juga oleh kebiasaan masyarakat yang masih belum disiplin dalam membuang dan memilah sampah.
“Kalau berbicara soal tingkat kesadaran, kita perlu membedakan antara membuang sampah pada tempatnya dengan mengolah sampah sebelum dibuang,” jelas Sudirman, Selasa (4/11/2025).
Sudirman menjelaskan, sesuai Peraturan Daerah (Perda) Nomor 4 Tahun 2022 tentang Pengelolaan Sampah Rumah Tangga, setiap rumah tangga kini diwajibkan mengolah sampahnya terlebih dahulu. Sampah organik dapat dijadikan kompos atau pupuk, sedangkan sampah anorganik seperti plastik dan botol bekas bisa dikumpulkan untuk dijual melalui bank sampah atau program sedekah sampah di tingkat RT.
“Sampah anorganik bisa disalurkan ke bank sampah. Hasilnya bisa menjadi kas RT atau mendukung kegiatan lingkungan di masyarakat,” tambahnya.
DLH mencatat, dari sekitar 550 ton sampah yang dihasilkan setiap hari, sebanyak 120 ton telah berhasil dikurangi melalui berbagai program pengolahan dan daur ulang. Artinya, sekitar 380–400 ton sampah per hari masih masuk ke TPA Manggar.
“Target nasional pengurangan sampah kini meningkat menjadi 50 persen pada 2025. Balikpapan sudah mencapai 30 persen, dan kami sedang mengejar sisanya,” ujarnya.
Untuk memperkuat gerakan dari hulu, DLH menargetkan terbentuknya enam bank sampah di setiap kelurahan tahun ini. Pihaknya juga menggandeng PKK sebagai mitra penggerak lingkungan di tingkat RT dan kelurahan.
“PKK membantu kami mengedukasi warga agar mulai memilah sampah sejak di rumah. Kesadaran ini penting untuk menciptakan budaya baru dalam pengelolaan sampah,” pungkas Sudirman.
Dengan sinergi antara pemerintah dan masyarakat, Balikpapan diharapkan dapat menjadi kota yang lebih bersih, sehat, dan berkelanjutan.






