DLH Balikpapan Fokus Kurangi Sampah Organik Rumah Tangga, Gandeng PKK Ubah Budaya dari Dapur

BALIKPAPAN – Dalam upaya menekan volume sampah kota, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Balikpapanmenegaskan komitmennya untuk fokus mengurangi sampah rumah tangga, terutama jenis organik. Langkah ini menjadi bagian penting dari target pengurangan sampah sebesar 50 persen pada tahun 2025.

“Sampah organik sangat potensial diolah jadi kompos. Sayangnya masih banyak yang langsung dibuang ke TPA,” ujar Kepala DLH Balikpapan, Sudirman Djayaleksana, Senin (26/5).

Rumah Tangga Penyumbang Terbesar, Pemilahan Jadi Kunci

Menurut Sudirman, rumah tangga merupakan penyumbang sampah terbesar, sehingga perubahan perilaku dari skala rumah sangat krusial. DLH akan menitikberatkan strategi ini pada edukasi pemilahan sampah sejak dari sumbernya, dengan menggandeng Tim Penggerak PKK sebagai mitra utama.

“Kalau ibu-ibu sudah terbiasa memilah, insya Allah target pengurangan sampah tercapai. Dari dapur, perubahan dimulai,” tuturnya.

Sesuai UU: TPA Hanya untuk Sampah Residu

DLH juga menegaskan bahwa pengelolaan sampah seharusnya mengikuti UU No. 18 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah, di mana TPA hanya untuk residu yang tidak bisa diolah lagi. Namun, rendahnya kesadaran memilah membuat sebagian besar sampah organik dan anorganik langsung dibuang.

“Sebagian besar masih bisa dimanfaatkan, baik didaur ulang maupun dijadikan kompos. Ini yang ingin kami ubah melalui edukasi,” jelasnya.

Sosialisasi Rutin hingga ke Sekolah dan Tempat Ibadah

DLH Balikpapan bersama PKK juga akan menggelar pelatihan dan sosialisasi berkelanjutan di lingkungan permukiman, sekolah, hingga tempat ibadah. Targetnya bukan hanya menurunkan volume sampah ke TPA, tapi juga membentuk budaya baru yang produktif.

“Kalau ini jadi budaya, plastik bisa jadi barang daur ulang, sampah dapur bisa jadi kompos, dan lingkungan jadi lebih sehat. Ada nilai ekonominya juga,” tambah Sudirman.

Dengan sinergi antara pemerintah, masyarakat, dan teknologi, DLH Balikpapan optimistis target 50% pengurangan sampah bukan hanya wacana, tapi gerakan nyata dari rumah ke rumah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *