DLH Balikpapan Kejar Target Pengurangan Sampah 50 Persen Sebelum 2025

BALIKPAPAN — Pemerintah Kota Balikpapan melalui Dinas Lingkungan Hidup (DLH) terus bekerja keras mengejar target nasional pengurangan sampah sebesar 50 persen pada akhir tahun 2025. Hingga pertengahan tahun ini, capaian pengurangan baru menyentuh angka 30 persen.

“Saat ini kita baru mencapai sekitar 30 persen. Masih kurang 20 persen lagi, dan itu tidak bisa dicapai hanya oleh DLH. Ini pekerjaan rumah seluruh warga kota,” tegas Kepala DLH Balikpapan, Sudirman Djayaleksana, Sabtu (21/6/2025).

DLH mengungkapkan kondisi Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Manggar semakin mengkhawatirkan. Kapasitas hampir mencapai batas maksimum, dengan rata-rata 500 ton sampah masuk setiap hari, sementara hanya sekitar 80 tonyang berhasil ditangani lewat program pengurangan dan daur ulang.

“TPA Manggar hanya menyisakan satu sel aktif. Tanpa perubahan signifikan, TPA bisa penuh dalam 3–4 tahun ke depan,” lanjut Sudirman.

Rencana membuka lokasi TPA baru pun tidak mudah, mengingat keterbatasan lahan dan penolakan dari masyarakat sekitar. Karenanya, Sudirman menekankan pentingnya perubahan perilaku masyarakat.

“Kalau masyarakat terbiasa memilah sampah organik dan anorganik dari rumah, itu sangat membantu. Pengurangan bisa signifikan, dan usia TPA jadi lebih panjang,” ujarnya.

Perubahan Gaya Hidup Kunci Utama

DLH Balikpapan kini gencar mengedukasi warga melalui sekolah, rumah ibadah, pasar, hingga lingkungan permukiman. Program seperti bank sampah dan kader lingkungan terus diberdayakan untuk menjangkau level RT dan kelurahan.

Sementara itu, Pemkot Balikpapan juga merancang pembangunan fasilitas pengolahan sampah menjadi energi listrik (waste to energy/WTE). Namun, realisasinya masih terkendala oleh regulasi pusat dan besarnya kebutuhan investasi.

“Studi awal dan teknologinya sudah ada. Tapi kami masih menunggu dukungan kebijakan dan kejelasan tarif pembelian listrik dari sampah,” terang Sudirman.

Balikpapan Butuh Partisipasi Warga

Meski telah ditetapkan sebagai kota percontohan pengelolaan sampah oleh KLHK, Sudirman menegaskan bahwa prestasi tersebut harus dibarengi dengan keterlibatan nyata masyarakat.

“Sampah itu tanggung jawab bersama. Kalau warga sadar dan mulai dari hal kecil, seperti memilah sampah dan tidak membuang sembarangan, kota kita akan jauh lebih bersih, sehat, dan berkelanjutan,” tutupnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *