Warga Balikpapan Tengah Sukses Kembangkan Urban Farming, Dari Lele hingga Sayur Herbal

BALIKPAPAN– Upaya memperkuat ketahanan pangan lokal di Kota Balikpapan kini mulai menunjukkan hasil nyata. Melalui dorongan dan fasilitasi dari anggota DPRD Balikpapan, Suwanto, warga di beberapa rukun tetangga (RT) wilayah Balikpapan Tengah mulai aktif mengembangkan urban farming atau pertanian perkotaan dengan memanfaatkan lahan pekarangan rumah.

Dalam wawancara di BSCC Dome Balikpapan, Suwanto menjelaskan bahwa program ini merupakan tindak lanjut dari hasil reses masa sidang pertama DPRD Balikpapan, di mana banyak warga mengusulkan kegiatan produktif berbasis rumah tangga. “Warga banyak menyampaikan keinginan untuk punya kegiatan produktif di rumah. Dari situ muncul ide urban farming, dan sekarang sudah berjalan di beberapa RT,” ungkapnya, Selasa (4/11/2025).

Konsep urban farming yang diterapkan cukup beragam. Sejumlah warga mulai membudidayakan ikan lele, menanam sayur-mayur, hingga tanaman herbal yang memiliki nilai ekonomi dan kesehatan. Bahkan sebagian di antara mereka telah berhasil mengolah hasil panennya menjadi produk siap jual seperti sambal lele, olahan herbal kering, hingga sayur kemasan siap masak.

“Selagi dijual mentah bisa, dijual hasil olahan juga bisa. Jadi manfaatnya ganda — untuk konsumsi sendiri dan tambahan ekonomi keluarga,” ujar Suwanto.

Beberapa titik yang telah memulai kegiatan urban farming berada di RT 64, 65, 66, 68, dan 69 di kawasan Balikpapan Tengah. Suwanto menyebut pihaknya tetap membuka peluang bagi RT lain yang ingin mengikuti program serupa. “Kami tidak memaksa. Kalau RT siap, kita bantu fasilitasi baik pelatihan maupun peralatannya. Prinsipnya, warga harus memiliki semangat mandiri,” jelasnya.

Menurut Suwanto, urban farming menjadi solusi kreatif bagi kota dengan keterbatasan lahan seperti Balikpapan. Selain meningkatkan kemandirian pangan rumah tangga, kegiatan ini juga berdampak sosial positif karena mempererat kebersamaan dan gotong royong antarwarga.

“Dari kegiatan sederhana seperti ini, masyarakat bisa membangun ketahanan pangan, menambah penghasilan, sekaligus memperkuat rasa kebersamaan di lingkungan. Ini wujud nyata pemberdayaan masyarakat dari bawah,” pungkasnya.

(±410 kata)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *