Wawali Dorong Integrated Farming Kodam VI/Mulawarman Jadi Pusat Edukasi Petani Muda

BALIKPAPAN-Program Integrated Farming System yang dikembangkan Kodam VI/Mulawarman tak hanya bertujuan menjadi pusat produksi pangan, tetapi juga diarahkan menjadi tempat edukasi bagi petani muda. Hal ini disampaikan langsung Wakil Wali Kota Balikpapan, H. Bagus Susetyo, saat meninjau kawasan pertanian terpadu di Sepinggan Baru, Balikpapan Timur, Rabu (3/7/2025).

Kawasan seluas 90 hektare itu kini mulai diisi dengan berbagai unit agribisnis produktif, mulai dari peternakan ayam petelur, perikanan lele, hortikultura, hingga cetakan sawah seluas 15 hektare. Seluruhnya dikelola secara terintegrasi oleh Kodam dengan melibatkan petani lokal.

“Kodam melibatkan kelompok tani lokal. Ini bukan hanya soal produksi, tapi menjadi sarana edukasi. Kita ingin anak muda Balikpapan belajar dan terlibat dalam pertanian. Jangan sampai petani hanya didominasi generasi tua,” ujar Wawali Bagus.

Dalam jangka empat tahun, kawasan ini ditargetkan akan berkembang menjadi edupark ruang belajar terbuka yang memberi pengalaman praktik nyata di bidang pertanian, peternakan, dan perikanan.

Menurut Wawali, langkah ini sangat relevan dengan kebutuhan zaman, di mana regenerasi petani menjadi isu penting. Edupark menjadi strategi jitu untuk menarik minat generasi muda yang selama ini belum melihat pertanian sebagai sektor menjanjikan.

“Petani milenial adalah masa depan. Dengan fasilitas dan pendampingan yang tepat, mereka bisa menjadi kekuatan baru dalam menjaga ketahanan pangan kota,” tegasnya.

Wawali juga menekankan bahwa kawasan ini memiliki nilai strategis dalam upaya pengendalian inflasi daerah. Salah satu penyumbang inflasi tertinggi adalah cabai, yang harganya sempat melonjak hingga Rp100 ribu per kilogram.

“Kalau kita bisa produksi sendiri cabai dan sayuran, ketergantungan pada pasokan luar bisa dikurangi. Ini akan sangat berpengaruh pada stabilitas harga dan daya beli masyarakat,” tambah Bagus.

Sementara itu, Asterdam Kodam VI/Mulawarman, Kolonel Kav M. Arifin, mengungkapkan bahwa program Integrated Farming yang baru berjalan tiga bulan ini sudah membuahkan hasil. Saat ini, dari 1.000 ayam yang diternak, 60 persen telah bertelur setiap hari. Produksi lele juga telah memasuki tahap panen.

Kodam melibatkan 7 kelompok tani lokal, masing-masing beranggotakan sekitar 12 orang. Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian, dan Perikanan Balikpapan turut mendampingi secara teknis, termasuk penyediaan alat, benih, pupuk, hingga layanan dokter hewan.

“Program ini bukan hanya soal ketahanan pangan bagi prajurit, tapi juga bentuk kontribusi TNI bagi kesejahteraan masyarakat,” ujar Kolonel Arifin.

Kesuksesan awal program ini mendorong Kodam untuk memperluas replikasi di wilayah-wilayah lain seperti Kukar, Kutim, Bontang, dan Penajam Paser Utara. Hasil produksinya sebagian besar didistribusikan untuk kebutuhan anggota TNI dan masyarakat sekitar.

Sinergi lintas sektor TNI, pemerintah daerah, dan petani kawasan pertanian terpadu ini menjadi bukti bahwa pertanian modern bisa berkembang bahkan di tengah keterbatasan lahan, dan menjadi fondasi kuat menuju kemandirian pangan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *