BALIKPAPAN – Pemerintah Kota Balikpapan melalui Dinas Lingkungan Hidup (DLH) terus memperkuat peran bank sampah sebagai gerakan masyarakat berbasis lingkungan dan ekonomi sirkular. Meski tak menjanjikan keuntungan besar secara finansial, program ini dinilai mampu menciptakan budaya baru yang produktif dan berkelanjutan di tingkat rumah tangga.
“Memang hasil finansial dari bank sampah tidak signifikan. Tapi manfaat nyatanya terasa—baik secara ekonomi maupun lingkungan,” ujar Kepala DLH Balikpapan, Sudirman Djayaleksana, Selasa (27/5).
Dari Sampah Dapur Jadi Ketahanan Pangan
Salah satu kisah sukses datang dari warga Balikpapan yang telah aktif memilah sampah rumah tangga, memanfaatkan sampah organik untuk dijadikan kompos, dan menggunakannya untuk menanam sayur dan buah seperti cabai, kangkung, dan tomat.
“Dari sampah dapur, mereka bisa panen hasil kebun sendiri. Ini bukan hanya mengurangi sampah ke TPA, tapi juga mengurangi belanja harian,” jelas Sudirman.
Gerakan ini terbukti mampu mengubah pola pikir masyarakat, dari melihat sampah sebagai limbah menjadi aset produktif. Rumah menjadi lebih bersih, halaman menjadi kebun, dan hasilnya bisa langsung dirasakan.
“Ini bentuk nyata ekonomi sirkular di tingkat lokal,” tambahnya.
Melibatkan Warga: RT, PKK, dan Pemuda Jadi Penggerak
DLH aktif memberikan pembinaan, pelatihan, dan sosialisasi kepada warga agar paham cara memilah dan mengelola sampah dengan benar. Pemerintah juga menggandeng RT, kelompok wanita, hingga pemuda sebagai penggerak utama di lingkungan masing-masing.
“Kami percaya, perubahan besar dimulai dari rumah. Jika setiap rumah sadar lingkungan, kota ini akan menjadi lebih sehat dan mandiri,” ucap Sudirman.
Bank Sampah: Solusi Lingkungan dan Stabilitas Pangan
Selain menekan volume sampah ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA), pemanfaatan sampah organik untuk ketahanan pangan keluarga juga menjadi nilai tambah. Sudirman menilai, di tengah lonjakan harga pangan, rumah tangga yang bisa menanam sayuran sendiri akan lebih tangguh.
“Bayangkan kalau setiap rumah punya cabai sendiri, mereka tidak akan terlalu terdampak saat harga di pasar melonjak,” pungkasnya.
Program bank sampah yang terus digalakkan ini menjadi bukti bahwa solusi lingkungan bisa sejalan dengan kemandirian ekonomi keluarga, sekaligus mendorong perubahan budaya masyarakat menuju kota yang lebih hijau dan berdaya.amu butuh versi singkat untuk media sosial (caption, carousel tips menanam dari sampah, atau edukasi memilah sampah), tinggal beri tahu!






