DPRD Dorong Rp10 Miliar untuk Revitalisasi Mangrove Balikpapan Barat, Potensi Wisata dan PAD

BALIKPAPAN- Sekretaris Komisi II DPRD Balikpapan, Taufik Qul Rahman, mengusulkan pengalokasian anggaran sebesar Rp10 miliar untuk revitalisasi kawasan mangrove di Balikpapan Barat. Usulan itu disampaikan dalam Forum Konsultasi Publik Pembahasan Rancangan Awal RKPD 2027, yang digelar di Aula Balai Kota, Kamis, (19/2/2026).

Taufik menekankan bahwa perhatian terhadap kawasan ini selama bertahun-tahun kurang maksimal, meskipun potensinya besar baik sebagai destinasi wisata maupun sumber Pendapatan Asli Daerah (PAD). Lokasi yang dimaksud berada di belakang SMA 8 hingga wilayah Bedali, Kelurahan Margo Mulyo,Kecamatan Balikpapan Barat yang merupakan pembuangan akhir arus air dari sekitarnya.

“Daripada menghabiskan ratusan miliar untuk proyek lain, cukup Rp10 miliar untuk membuat kanal sekaligus menata mangrove dari SMA 8 sampai Bedali. Selain menjadi destinasi wisata, PAD juga bisa bertambah karena ada potensi ekowisata mangrove,” ujar Politisi PKB.

Menurut Taufik, revitalisasi kawasan mangrove tidak hanya penting secara ekologis, tetapi juga strategis dari sisi ekonomi. Kawasan mangrove yang terawat dapat menjadi objek wisata edukatif, menarik pengunjung lokal maupun wisatawan, sekaligus mendukung UMKM setempat yang bisa menjual makanan atau cendera mata. “Ini kesempatan besar untuk menambah PAD kota sekaligus menjaga lingkungan,” kata Taufik.

Usulan anggaran Rp10 miliar tersebut rencananya akan digunakan untuk pembangunan kanal penyaluran air sekaligus penataan kawasan mangrove agar lebih tertata dan nyaman dikunjungi.

Taufik menyoroti pentingnya terobosan nyata karena selama bertahun-tahun pengajuan serupa selalu stagnan dan tidak terealisasi.
“Ini aspirasi yang luar biasa karena sudah lama diajukan tapi tidak ada langkah konkret. Semoga di RKPD 2027 bisa dimaksimalkan,” ujarnya.

Revitalisasi ini sejalan dengan program pemerintah daerah, untuk mengembangkan potensi wisata berbasis lingkungan dan menjaga keberlanjutan ekosistem pesisir kota. Selain menahan abrasi dan menjaga kualitas air, pengembangan mangrove juga bisa menjadi daya tarik baru bagi wisata edukatif di Balikpapan Barat.

Dukungan DPRD dan Pemkot, kawasan mangrove Balikpapan Barat berpotensi menjadi contoh bagaimana pengelolaan ekowisata bisa selaras dengan peningkatan PAD dan pelestarian lingkungan.(*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *