BALIKPAPAN-Anggota Komisi III Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Balikpapan, Wahyullah menilai iklim investasi di Kota Balikpapan masih sangat positif dan menjadi modal penting, untuk mendorong pertumbuhan ekonomi daerah di tengah perlambatan ekonomi nasional.
Menurut Wahyullah, tingginya minat investor masuk ke Balikpapan menunjukkan kota ini masih dipandang strategis sebagai pusat industri dan jasa di Kalimantan Timur.
“Iklim investasi di Balikpapan masih sangat baik dan perlu terus kita dukung supaya investasi terus tumbuh di Kota Balikpapan,” ujarnya, Kamis (21/5/2026).
Ia mengatakan sejarah perkembangan Balikpapan tidak bisa dilepaskan dari peran investasi, terutama dari sektor swasta yang selama ini menopang pertumbuhan ekonomi kota.
“Balikpapan ini sejak dulu dibangun oleh investasi dan sektor swasta, terutama industri migas dan sektor pendukungnya. Itu yang membuat kota ini menjadi salah satu daerah yang banyak diminati investor,” katanya.
Karena itu, Wahyullah meminta pemerintah daerah terus memperkuat dukungan terhadap investor, khususnya dalam menciptakan kemudahan perizinan dan kepastian usaha.
Namun demikian, ia menegaskan pertumbuhan investasi harus memberikan dampak langsung bagi masyarakat lokal, terutama dalam proyek-proyek konstruksi dan pengembangan industri.
“Pelibatan masyarakat lokal menjadi hal yang harus digarisbawahi. Investasi dari mana pun boleh masuk ke Balikpapan, tetapi penggunaan tenaga kerja lokal serta bahan dan material lokal itu sangat penting,” tegasnya.
Menurut dia, proyek konstruksi memiliki efek berganda besar karena melibatkan banyak tenaga kerja hingga penggunaan material bangunan dalam jumlah besar.
“Kalau proyek konstruksi berjalan, itu bukan hanya soal bangunan, tetapi ada industri jasa konstruksi yang bergerak. Banyak pekerja yang terlibat, bahan bangunan digunakan, dan ekonomi masyarakat ikut berputar,” jelasnya.
Wahyullah juga menilai keberadaan industri menjadi indikator penting kemajuan sebuah daerah. Kota yang memiliki basis industri, kata dia, cenderung lebih kuat menghadapi tekanan ekonomi dibanding daerah yang hanya bergantung pada sektor tertentu.
“Kalau sebuah kota punya industri, baik industri jasa konstruksi, perminyakan, maupun pariwisata, maka kota itu akan lebih cepat maju,” ujarnya.
Meski demikian, ia mengingatkan Balikpapan masih memiliki tantangan besar terkait ketergantungan terhadap sektor migas.
Berdasarkan hasil pembahasan Panitia Khusus (Pansus) Laporan Keterangan Pertanggungjawaban (LKPJ), Wahyullah menyebut lebih dari 50 persen pendapatan daerah masih bergantung pada industri jasa migas.
“Ketergantungan Balikpapan terhadap industri jasa migas itu masih sangat besar, di atas 50 persen pendapatan berasal dari sektor migas,” katanya.
Karena itu, ia mendorong pemerintah mulai memperluas basis industri dan investasi agar ekonomi Balikpapan lebih kuat dan tidak terlalu bergantung pada satu sektor utama.(*)






